“Ini haikuKu mana haikuMu”.

Selasa, 09 Desember 2014

TULISAN HIKMAT GUMELAR

| No comment
 
Phonex, sulit rasanya bicara tentang haiku, apalagi menulisnya dalam bahasa Indonesia, bahasa yang bukan bahasa mulanya ia ditulis. Di lapis permukaan, memang kepatuhan pada jumlah suku kata 5, 7, 5 menjadi keharusan. Namun, mencerap keindahan-keindahan yang tak terduga dan sementara adalah hal yang juga perlu, bahkan begitu perlu. Dengan itu, keindahan-keindahan yang sering dinihilkan itu kembali muncul. Kita jadi beruntung bisa menghidunya, bisa dirasukinya. Hidup menjadi lebih mungkin untuk disyukuri dan dilanjutkan. Namun untuknya kita agaknya mesti terbuka, mesti merdeka dari kekangan kerangka-kerangka. Untuknya pula kita agaknya mesti kenal benar pelbagai segi dan potensi kata. Dan pengenalan ini lantas coba dijalankan, dijalankan, dijalankan dan dijalankan sehingga menjadi naluirah. Ini bukan kerja mudah, Phoenix. Ini jelas perlu disiplin. Disiplin sebagaimana yang dijalankan oleh para pendeta Zen atau orang-orang Musashi. Itu sebab, Phoenix, sulit rasanya bicara tentang haiku, apalagi menulisnya dalam bahasa Indonesia, bahasa yang bukan bahasa mulanya ia ditulis. Aku yakin kau paham maksduku, Phoenix. Maaf suaraku kembali murung.
Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar