“Ini haikuKu mana haikuMu”.

Rabu, 10 Desember 2014

MAMAN WIDIA (2)

| No comment
 Maman Widia

bening nan dingin
butir embun didaun
dingin mendekap


pilu berlalu
datang kembali cinta
hampa dan palsu


berkawan angin
disaat hujan turun
menambah dingin


harus berulang
ratapan masa lalu
diujung kisah


aku terjaga
ketika puisiku
tidak sempurna 


dia disana
bertabur kasih gelap
dan pesta malam


aku disini
tenggelam dalam sepi
menyiksa hati



tiap lelaki
disentuhnya sengaja
menebar onak

 
kau daun kering
terlepas dari ranting
terhempas angin


 aku terjaga
ketika puisiku
tidak sempurna


berlalu pergi
dihempas matahari
tiada bekas


Perlahan pergi
diusir matahari
tiada bekas


tinggalkan rindu
dahan pohon nan sendu
kering merana


hati menjerit
disayat cinta angkuh
dipeluk pedih


dipeluk pedih
disayat cinta angkuh
hati menjerit


berburu sepi
diladang ladang getir
hampiri sunyi

berlalu pergi
dihempas matahari
tiada bekas


harapan lepas
Beruntai sendu pilu
Berujung tangis


disaat lelap
datang mimpi menyergap
kekasih lenyap

pada lelapnya
tidurmu mimpi pilu
kekasih lari


ditengah malam
saat melayang mimpi
melukis langit



Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar