“Ini haikuKu mana haikuMu”.

Minggu, 07 Desember 2014

Haiku-Haiku Henda Surwenda Atmadja

| No comment

 

Henda Surwenda Atmadja
Semua Meja
para penyembah berhala
di isi kata
Di kotak itu
semua mata tertuju
lahirkan Hantu
Dongeng dusta
esok jadi berita
diruangan mereka
Merangkai kalimat
Bersilat dal muslihat
Semuanya Bangsat
Derap sepatu
satu satu jatuh
dan tetap berlalu
Pilih kartu
yang mewakili palsu
ya jadi Hantu
Bermain kata
suara tuk yakinkan mereka
tetap gak percaya
Banyak menanti
diberi segudang janji
kini cintanya mati
Kayuh di Laut
dengan wajah cemberut
kini ia bangkrut
Lemparkan Dadu
semua orang menyerbu
dan jadi Babu
Mesin menderu
lalu lalang berburu
semuanya berdebu
Terkulai lunglai
tidak pernah dibelai
jadinya jablay
Lama bersolo
di kota kota jago
jadinya jomblo
Semua meja
isi kata bicara
tapi tak kerja
Bandung geus heurin
unggal isuk raribut
Bandung semrawut
Buruh ngoceak
pamarentah hohoak
kabeh barontak
Loba ngarujak
can pernah daek masak
teu mayar pajak
Kasih yang jauh
jadi banyak selingkuh
rindu tak tumbuh
Lembur geus ancur
Baraya loba kabur
Kampung ku batur
Negara kita
kaya dan bijaksana
Rakyat gembira
Kibar Bendera
duka tambahkan rasa
belum Merdeka
Kering di rasa
lari kejar materi
Hidup jahanam
Datanglah kamu
hadir sebagai cinta
gembira tiba
Berlalu lalang
orang bergentayangan
jadi bayangan
Rindu yang pilu
kamu datang yang palsu
senyum yang semu
Melupakanmu
bahagiakan daku
jauhlah kamu
Mendapat kabar
rasa dada berdebar
hidupku gebyar
Kosong belaka
janji janjinya syurga
itu kampanye
Dua dua nya
pasangan yang setia
sekarang pisah
Aku tuliskan
kegelisahan kamu
dalam hatiku
Kamari Awi
loba di olo tamu
kiwari mobil
Kamari Awi
loba di olo deungeun
kiwari Gedong
Menjadi Mesin
Balik menjadi Hewan
Kita sekarang
Kepala luka
tapi tidak berdarah
sakit pikiran
Hati yang sunyi
diam bagai hatimu
memang tak padu
Menghindar lepas
walau dikejar keras
teta tak jelas
Mesin menderu
Lalu lalang berburu
Semuanya Debu
Menyusun langkah
menyambut esok lusa
harapan baru
Berderap langkah
Baris dan berteriak
Turun Pembohong
Pagi yang dingin
sedinginmu padaku
putuslah sudah
Di hening hati
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu 
Harap harap mu
datang juga merayu
kasih mu layu
Bosan rasanya
bicara tanpa makna
sajak obatnya

Sosok tubuh mu
mengguncang jantung aku
menghias mimpi
Liar binal mu
bagai cermin kecewa
bengis dan rakus
Anginnya kencang
lari lari ke Puncak
didapat kabut
Tetap tak jelas
walau dikejar keras
Menghindar lepas
 
Kadang kau datang
bagai gelombang pasang
goncangkan hati


Lalu kau pergi
seperti angin laut
tinggalkan sepi


Datang dan pergi
sesuka hati kamu
dan binal mu
Sosok tubuh mu
mengguncangkan jantungku
menghias mimpi
Acungkan tinju
pada para pembohong
turun semua
Di antar waktu
seluruh perilaku
sampai pada Mu
Kerelaanku
ikhlasku kepada mu
dan kepada Mu
Desah napasku
di saat menatap mu
peluklah daku
Janji mu besar
bergaya tukang obral
dasar Pembual
 
Ranjang tidur mu
sepi slalu kasihmu
bagai hatiku

alunan lagu
tidak merdu ke kalbu
katanya palsu

tontonan itu
ditatap rasa hampa
hilangnya makna

semakin liar
melawan dan berontak
mencumbu angin

Lukanya panjang
berhari hari nangis
direngkuh getir

Pelangi senja
berbalut angin dingin
wajahnya redup

Getir dan merintih
saat menjejaki tapak
perjalanannya

banyak menyemai
tunas dan menyirami
supaya tumbuh

seluruh hari
semua siang juga
segenap malam

tercurah lepas
tertuju pada musim
panen kan tiba

dipetik hasil
dikumpul bakul harap
suara jerih

Saat dihitung
butir buah tenaga
sungguh kecewa

majikan itu
dengan para mandornya
yang bergembira

Ijon bersuka
tertawa dikursi dan
meja dusta

Hasil kerjanya
telah dirampas kasta
politik keji

Ketika sibuk
ku tak mau diganggu
oleh haikuku

ketika senggang
ku ingin hibur diri
dengan haikuku

bermain haiku
ketika kecewaku
saat kau bisu

Ingat ingat ya
semuanya yang besar
dulunya kecil

(dari Teddy Wibisana/Mak Erot)

Di malam ini
tiada bisa tidur
entah kenapa

tiap saatnya
ingat slalu ke dia
jatuh cintakah

yang jelas risau
seakan tak berhenti
datang mengganggu

Matanya sayu
diwajahnya yang ayu
tampilan Ratu

Hari hariku
terlalu kering bila
tanpa ceriamu

Kamu yang palsu
tiap hari yang semu
Ratu Hantu mu

Warna warni mu Pelangi warna biru
di abu abu

Dengan dongengmu
dia terbuai lalu
mabuk kasmaran

Bangsa Kuasa
Amerika dan China
yang hina kita

Bangsa yang rusak
tiada yang bergerak
Penjajah enak

Kamu teriak
kami pasti membentak
jangan berontak

Berlumur darah
matanya merah demi
BBM murah

Susah tuk tidur
pake bantal dan kasur
pacarku kabur

Kasih yang jauh
membuat hati lusuh
lalu selingkuh

Cita digenggam
dekat yang abu abu
kembali palsu

Hari hari mu
gemuruh ambisi mu
kembali hampa

Targetmu duit
menggapai tiap saat
didapat sepi

Asmara kita
terpenjara dan gagal
karena Miskin

Negara kita
banyak yang berbicara
tapi tak kerja

Belajar dusta
agar besok bicara
jadi berita

Kursi meja mu
dibawa bicara tuk
jadi berita

Pikiran kosong
melayang di tubuh mu
hampa mu jua

Hamburkan waktu
tenaga dan pikiran
terengkuh kosong

Janjikan Bunga
tiap hari menyemai
yang panen Ijon

Jangan kau Catur
nanti kepala pusing
bicara ngawur


Sudahlah sudah
kamu pergi kesana
jangan kembali


Aku tak tahu
kamu kasmaran lagi
pergilah kamu


Sore hariku
menanti hujan reda
dan kamu datang


Bambu yang runcing
simpan jangan dipakai
tuk perang nanti


Rengek manjamu
bentuk rayu merajuk
dan itu racun


Hujan yang turun
membasahi rambutmu
tidak ke hati


Bambu yang hitam
untuk Angklung semua
dan juga aku


Bambu yang kuning
dari negeri seberang
selalu subur


Pohon Bambuku
tak pernah parah luka
karena aku


Dimusim hujan
suara pohon Bambu
melirih sendu


Serumpun Bambu
tertiup angin dingin
berisik sunyi


Bambu bambuku
hijau kuning dan hitam
perhatianku


Aku tak mau
Bambu bambuku pilu
karena kamu

Bidadari putih
bersama Angsa putih
hatinya putih


Mulut terlatih
siapa makan siapa
serba bisa


Mulut terlatih
bersilat lidah dalam
kata kalimat

merangkai dongeng
bercerita rencana
berhari hari


Mulut terlatih
siapkan santap siang
setiap hari


Mulut terlatih
siapkan caci maki
di siang hari


Tangis pagimu
membasahi selimut
di ranjang dingin


# Terus dan Lanjutkan #
Kau bukan gagal
hanya ceroboh ambil
lalu tertunda

Siapkan lagi
hari esok jua ada
kau pasti menang

Berlatih terus
perbaiki diri mu
pukul lawan mu

Simpan tangis mu
jangan sesali diri
esok tawa mu

Kau Sang Petarung
layak kau tampil nanti
berseri seri

Kehormatan mu
diraih dengan senyum
dan pelukan ku

Pengabdianku
menjelma cinta kasih
nikahi kamu


Ha ha ha kamu
datang bagai Ratu ku
hidup mu palsu


Cemberut selalu
kubiarkan dirimu
selamat tinggal 

 



 

 

 

 

Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar